Pada Sebuah Kapal adalah judul novel karya NH. Dini yang berkisah tentang hubungan pernikahan yang penuh dengan drama perselingkuhan antara Sri, Michael dan Vincent. Sebuah novel yang konon dikaitkan dengan kehidupan sang pengarang novel itu sendiri. NH Dini pernah menjadi penyiar radio dan bersuamikan seorang pria berkebangsaan Perancis, sebagaimana tokoh dalam ceritanya; Sri.Beberapa waktu yang lalu saya menghadiri upacara pernikahan kerabat di Lampung. Seperti pada pernikahan umumnya, orang-orang berkata 'selamat mengarungi bahtera kehidupan'.
Saya pernah iseng bertanya pada seorang sahabat 'kenapa bahtera? memangnya orang-orang kalo nikah langsung jadi pelaut?'. sahabat saya menjawab, cukup puitis: 'pernikahan itu ibarat kapal tampomas, nahkodanya suami dan isteri. kadang ombak, angin, badai datang menghadang. nah nahkodanya harus pintar mengatasinya. kadang laut bersahabat, tenang. tapi kadang juga tabung gas di kabin dapur meledak dan terbakar gara-gara ada nahkoda yang kepincut sama kapal lain sampe lupa ikan asin di penggorengan'. sungguh jawaban yang cerdas dari orang yang menolak untuk menikah seumur hidupnya.
Ketika dalam perjalanan pulang menuju pulau Jawa, bus yang saya tumpangi harus menggunakan jasa ferry yang akan menyeberangkan kami menuju Merak. Di atas ferry itulah saya berpikir tentang ucapan sahabat saya tadi. Bukan soal pernikahanya, tapi lebih pada tabung gas yang meledak, atau katup mesin yang tiba-tiba meledak karena overheat dan akhirnya kapal ferry ini tenggelam. Pikiran seperti itu muncul bersamaan dengan bayangan akan kisah perselingkuhan Sri dan Vincent Pada Sebuah Kapal menuju Perancis. Jika disatukan mungkin hasilnya sedikit melankolis seperti kisah Jack dan Rose dalam Titanic garapan James Cameron.

Untuk menghilangkan pikiran semacam itu saya memutuskan untuk mengeluarkan kamera dan, seperti kebanyakan turis, memotret perjalanan wisatanya. Walau saat itu terik mentari pukul satu siang sangat menyiksa bahkan dalam pakem fotografi, waktu demikian adalah waktu yang buruk untuk menekan shutter. Tapi saya tidak peduli dengan aturan macam itu, lagipula saya bukan seorang fotografer yang taat hukum. hanya seorang idiot dengan kamera. Sehari sebelumnya saya memotret upacara pernikahan teman saya dengan kamera yang sama, dan sisa frame masih cukup untuk sekedar menghilangkan bayangan 'sado-masokis' dalam kepala tentang percintaan pada kapal yang terbakar dan tenggelam, dan tentu saja meledak bersamaan dengan orgasme Sri dan Vincent. Saya akui sudah lama saya tidak memotret dengan film 35mm, sejak Juli 2009 tepatnya. Ketika teman saya meminta untuk mengabadikan moment sekali seumur hidupnya, secara kebetulan saya sedang meminjam kamera FM2 milik seorang teman untuk sebuah keperluan lain (sayang saya tidak sempat menggunakan medium format] saya berpikir alangkah baiknya saya menggunakan film untuk itu.


Kembali ke ferry, singkat cerita, saya berkeliling dan mulai memotret, membayangkan apa yang bakal terjadi ketika lucky ini diproses dengan microMF. Sebetulnya saya belajar bagaimana menggunakan microMF, mengingat ditempat saya tinggal tidak tersedia developer lain lagi. Setelah bertanya pada orang yang tepat, saya akhirnya menemukan resep rahasia Farah Quinn eh maaf, microMF dengan Lucky pada EI 200. dan saya sangat puas dengan hasilnya, walau sangat jauh dari sempurna. Terima kasih untuk resepnya, you are the best Tic.
berikut resepnya setelah modifikasi melalui test terlebih dahulu: presoak- air mineral 1 menit, microMF 8,5 menit, agitasi kontinyu 60 detik pertama, agitasi 5 detik interval 30 detik, running water 1 menit, ilfostop 3 menit agitasi kontinyu, running water 1 menit, rapid fixer 7 menit agitasi kontinyu, running water 5 menit. semua dikerjakan pada suhu 20*C dan tanpa invert apalagi shaking ala bartender profesional.







Selamat menjadi nahkoda kapal untuk Ninin dan Toto, kalau tersesat lihat saja bintang utara sebagai patokan. Northern Star will guiding you through this life! demikian kata penulis tua who loves the sea.





